May 26, 2008
Ini nih penyakit yang kalau saya amat-amati sering menimpa saya. Ya memang sih kalau dibandingkan dengan orang yang penyakitnya macam-macam dan memerlukan biaya sangat besar agar kembali sembuh ke keadaan normal, penyakit saya ini adalah penyakit kecil. Jadi, sudah selayaknya kalau saya memanjatkan syukur hanya dikasih penyakit seperti ini. Tapi, yang namanya penyakit, tetap saja kalau datang rasanya menyiksa. Dampaknya, aktifitas saya mau tidak mau harus terganggu.
Berkaitan dengan penyakit ini, salah seorang saudara saya suatu ketika kirim short message service (atau bahasa gaulnya SMS lah) pada saya. Isinya mengabarkan kalau dirinya sedang terhinggap oleh penyakit men***. Di dalam sms waktu itu dia mengatakan, “Kabarku lagi kurang baik nih, biasa penyakit nggak elite nya lagi datang. Aku sudah dua hari ini lagi men***”
Jadi oleh saudara saya ini, penyakit men*** yang dideritanya dianggap sebagai penyakit nggak elite. Saya yakin di balik sms itu, dia berpikir bahwa penyakit yang elite itu ya seperti penyakit jantung, paru-paru, gagal ginjal, stroke, dan penyakit-penyakit lain yang biasanya diderita oleh orang-orang berduit dan penyembuhannya juga memerlukan uang yang tidak sedikit.
Nah, menerima sms seperti itu, secara otomatis pikiran saya memberontak. Maka saya balas sms saudara saya itu. Intinya, saya tidak setuju dengan pandangannya. Ya, menurut saya men*** atau masuk angin, atau sakit perut, atau bahkan panu, kadas, kudis, kurap dan sebangsanya itu tidak bisa dikatakan sebagai penyakit tidak elite. Alasan saya sih sederhana, siapa saja berpeluang menderita penyakit-penyakit ini sebagaimana penyakit-penyakit seperti gagal ginjal, gagal jantung, dan kawan-kawannya yang juga berpeluang untuk diderita oleh siapapun tidak hanya oleh mereka yang berduit. Buktinya, tetangga saya pernah ada yang meninggal karena sakit paru-paru lebih tepatnya asma. Padahal tetangga saya itu bukan orang kaya. Dia bahkan sangat memenuhi syarat untuk disebut miskin dan karenanya berhak mendapat BLT. Dan memang pada tahap pembagian pertama, dia mendapat bagian BLT.
Selain itu, penyakit-penyakit yang oleh saudara saya itu sebut sebagai penyakit gak elite itu juga terbukti pernah menjadi penyebab kematian seseorang. Memang sih, belum pernah ada laporan dari media massa bahwa seseorang meninggal dunia lantaran penyakit panu. Tapi, tentunya sudah banyak dong laporan surat kabar yang memberitakan kematian seseorang karena masuk angin, atau men****, atau sakit perut. Nah, kalau demikian, berati benar penyakit-penyakit ini tidak boleh dianggap nggak elite. Yach, intinya penyakit-penyakit itu tetap harus dimasukkan ke dalam kategori elite.
Masalahnya kemudian penyakit seperti apa yang layak dimasukkan ke dalam kategori tak elite? kira-kira demikian balasan sms saudara saya itu kemudian. Menjawab smsnya, dalam sms saya selanjutnya yang saya masukkan ke dalam kategori penyakit nggak elite adalah penyakit-penyakit macam iri hati, dengki, sombong, lupa diri, wa ala aalihi wa ashabihi ajama’in. Alasan saya memasukkan penyakit-penyakit ini ke dalam kategori penyakit nggak elite adalah bahwa tak peduli betapa kayanya seseorang, kalau dia mengidap salah satu penyakit tersebut, sikapnya akan terlihat layaknya orang-orang tak berbudaya. Bayangkan saja seorang bos yang sombong. Pasti dia akan bersikap merendahkan para bawahannya. Nah, dalam budaya komunal dan kemasyarakatan di mana sikap saling menghargai adalah sebuah keharusan, sikap suka merendahkan orang lain yang ditunjukkan oleh si bos ini tentu tidak bisa diterima. Nah, kalau sikap seseorang tidak diterima oleh masyarakat, berarti sikap itu termasuk sikap tak berbudaya. Maka, orangnya pun juga bisa dimasukkan sebagai orang yang tak berbudaya. Orang tak berbudaya bisa disamakan dengan orang tak elit lah.
Jadi, kawan-kawan sekalian, tidak usah merasa malu kalau Anda langganan menderita sakit perut, masuk angin, atau mencret seperti yang saya alami. Karena penyakit ini termasuk penyakit elit, yang sama berbahayanya dengan penyakit lain seperti gagal jantung dkk. Sebaliknya, Anda boleh merasa malu kalau kawan-kawan masih sering suka iri hati, dengki, dan teman-temannya. Karena penyakit ini sama sekali elite. Karena semua penyakit ini hanya menunjukkan bahwa jiwa kawan-kawab tidak elite sama sekali.
Tags: hurdles
May 24, 2008
Pernah punya sandal yang Anda sayangi dan tiba-tiba hilang entah ke mana? Pernah? Seperti semua orang pernah mengalami hal yang satu ini. Meski dalam tingkatan rasa sayang yang berbeda-beda, sepertinya semua orang pernah menyayangi sesuatu yang menjadi miliknya. Dan menurut saya sandal adalah barang yang tampaknya paling mungkin untuk disayangi oleh semua orang. Lebih dari itu, barang yang satu ini juga paling rawan hilang. Kenapa? Ya jelas lah, masak ya Jelas dong! Ya jelas karena tidak seperti barang lainnya yang bisa selalu kita kenakan atau kita bawa atau juga kita simpan, di beberapa tempat barang yang bernama sandal ini harus kita lepaskan dari kaki kita tak peduli betapa sayangnya kita padanya. Misalnya saja saat Anda harus ke masjid, mau tidak mau tentu sandal tidak bisa Anda pakai. Ia harus rela kita tinggal di depan masjid. Dan, karena memang di sinilah sandal harus di lepas, maka otomatis salah satu tempat di mana sandal sering hilang adalah di masjid.
Adapun saya, saya pernah beberapa kali kehilangan sandal kesayangan. Kadang sandal yang saya sayangi itu harganya mahal. Kadang juga si sandal tidak terlalu mahal tapi bentuk dan enak di pakai di kaki. Entah itu mahal maupun hanya karena pas di kaki, yang namanya sandal kesayangan jika hilang maka kita akan merasa kehilangan. Begitu pula dengan saya, meski saya sadar sesadar-sadarnya bahwa sandal hilang adalah hal biasa, dan bahwa harga sandal tidak terlalu mahal sehingga kita bisa dengan mudah mencari pengganti, saat sandal kesayangan saya hilang saya betul-betul merasakan kepahitan. Ada rasa sesak di dada.
Well, di antara momen-momen hilangnya sandal saya itu, saya masih ingat dua kejadian di antaranya. Yang pertama terjadi di Yogyakarta. Sedangkan yang kedua terjadi di Cirebon. Meski tempat terjadinya kedua kehilangan saya itu sangat jauh terpisah jarak, dan beda provinsi, namun ada kesamaan yang melatarbelakangi kepergian saya ke kedua tempat itu. Yakni, acara keagamaan.
Kejadian pertama yang di Yogyakarta terjadi saat saya masih berusia remaja. Kalau tidak salah saat itu berusia sekitar 12 atau 14 tahun. Saya pergi ke Yogya bersama keluarga saya untuk Piknik. Hampir semua tempat pariwisata di Yogya dan sekitarnya waktu itu kami kunjungi dengan penuh suka cita. Maklum, masih kecil dan pergi jauh ke luar kota bukan sesuatu yang bisa saya lakukan di hari-hari biasa. Hanya pada saat-saat istimewa saja yang bisa pergi keluar kota dan bersama keluarga lagi.
Nah, pada saat tiba gilirannya piknik di Kebun Binatang Gembiro Loka, kebetulan waktunya pas siang hari dan waktu sholat dzuhur pun tiba. Entah apa yang mendorong hati saya waktu itu, panggilan sholat di sebuah musholla benar-benar telah menarik keinginan saya untuk sholat. Saya bahkan tidak mengajak satu orang kerabatpun untuk ikut sholat bersama saya. Maka, setelah wudlu saya langsung masuk ke musholla dengan tanpa ada pikiran apapun. Dan saat saya telah selesai sholat dan hendak berkumpul lagi bersama kerabat, oh no! sandal saya yang tadi saya tinggalkan dengan pedenya tidak ada lagi di tempat semula.
Saya yakin seyakin-yakinnya sandal saya bukan sandal ajaib. Karena itu tidak mungkin dia jalan-jalan sendiri saat saya sedang sholat. Saya juga yakin bahwa tadi tidak ada satu orang kerabat pun yang bersama saya ke musholla itu. Jadi, tidak mungkin si sandal di sembunyikan untuk menggoda. Maka, dengan hati agak kecewa (ya gimana nggak kecewa wong kehilangan kok) saya berusaha mencari-cari si sandal di semua sudut musholla. Setelah semua sudut saya telusuri dan si dandal tidak juga kelihatan batang hitungnya, maka saya ambil kesimpulan bahwa si sandal sudah diambil orang. Dengan dipaksa-paksakan, saya harus mengingat ajaran guru ngaji dulu bahwa sesuatu yang lepas dari kita tidak lah benar-benar hilang, hanya sedang dipelukan orang. Dalil inilah yang saya pakai saat kerabat-kerabat saya menanyakan ha ihwal sandal saya. Saat mereka bertanya “Sandalmu Ilang yo?” Dengan lantang saya menjawab “Tidak hilang, cuma sedang dipinjam. Pasti akan diganti.”
Yang kedua terjadi beberapa waktu lalu di Cirebon saat saya ikut ziarah wali songo. Saat hendak ke makam sunan gunung jadi, saya (sebetulnya bukan hanya saya saja, akan tetapi semua peziarah) harus melepaskan alas kaki. Kali ini dengan sangat pede saya juga meninggalkan sandal kesayangan tanpa ada rasa curiga atau firasat akan terjadinya kehilangan. Dengan khusyuknya saya bisa mengikuti ziarah di tempat itu. Dan saat hendak kembali ke bis, lagi-lagi si sandal telah tidak tampak batang hidungnya. Saya cari ke sana kemari, siapa tahu hanya posisinya yang berubah, tapi tak juga saya temukan. Maka, saya simpulkan sandal saya yang satu inipun telah tidak menjadi milik saya lagi. Dengan perasaan masgul yang ditahan-tahan saya kembali ke bis. Saat berjalan ke bis itulah tercetus satu pikiran di benak saya: pasti kejadian ini mengandung pesan khusus untuk saya, buktinya sebegitu banyak orang, dan dengan sandal yang lebih bagus dari milik saya, hanya saya seorang yang kehilangan sandal. Entah apa pesan dari kehilangan saya ini. Tapi saya yakin pasti ada.
Begitulah, sandal saya kini telah berubah. Sekembali dari ziarah, saya memutuskan untuk membeli sandal yang lebih bagus dan harganya jauh lebih mahal. Ya, setidaknya agar saya tidak lagi menyesali kehilangan itu. Dengan sandal yang lebih bagus saya berharap justru bisa mensyukuri hilangnya si sandal.
Tags: hurdles
Rasanya kita semua memang selalu menginginkan apa yang tidak kita miliki. Dan setelah medapatkan yang kita inginkan itu, seringkali kita menyesalinya. Atau, kita tidak puas dengan apa yang didapatkan dan mengharapkan yang lebih dari yang sekarang bisa kita raih.
Dalam kasus saya, saya juga tidak hanya sekali dua kali mengharapkan sesuatu akan tetapi kemudian saat yang saya harapkan itu bisa saya raih, eh malah sesal yang saya rasa. Selain kasus kumis plus jenggot, ketika masih kecil juga pernah berharap untuk memakai kaca mata kelak jika sudah besar. Waktu itu, di mata saya, kaca mata merepresentasikan intelektualitas seseorang. Maka, jika orang berkacamata adalah orang yang intelek dan cerdas. Sedangkan orang yang tanpa kaca mata adalah orang-orang biasa.
Tentu saja, pandangan saya tentang pengaitan antara kaca mata dengan intelektualitas ini tidak tumbuh dengan serta merta. Ada sesuatu yang mendorong saya untuk berpikir demikian. Pendorong lahirnya pendapat semacam itu adalah tontonan di televisi yang selalu menempatkan dan mengidentikkan kaca mata dengan kecerdasan. Oh ya, dulu saya suka menonton “Oh, I Shrunk the Kid”. Kalau Anda termasuk penggemar atau setidaknya pernah menonton film ini tentu Anda tahu bahwa di situ ada satu karakter jenius yang penggambarannya adalah seorang anak berkaca mata, tebal lagi. Yah, sepertinya film ini ikut membentuk pendapat saya tentang hubungan kecerdasan dengan kaca mata.
Memang tidak hanya satu film ini. Banyak tayangan lain di televisi yang menggambarkan orang cerdas dengan cara yang sama, yakni memakai kaca mata. Bahkan, di majalah-majalah, koran, dan Tabloid pun, kecerdasan senantiasa divisualisasikan dengan kaca mata. Ya, kalau Anda belum percaya, coba tonton film-film tentang anak-anak jenius atau bukalah tabloid anak-anak dengan tema yang sama. Saya jamin Anda akan menemukan seperti yang saya gambarkan.
Itu hal pertama yang mempengaruhi saya. Adapun alasan kedua saya waktu itu berharap untuk menggunakan kaca mata adalah penilaian saya akan penampilan orang-orang berkaca mata. Ya, saya menganggap pemakai kaca mata kelihatan jauh lebih good looking atau lebih enak dipandang mata ketimbang orang-orang yang tidak berkaca mata. Tentu saja, kriteria good lookingness ini tidak mencakup semua pemakai kaca mata. Mereka yang kata matanya terlalu tebal, yang di tempat saya dulu sering disebut tesmak tidak masuk kategori good looking meski mereka berkaca mata. Hanya mereka yang kaca mata tidak menunjukkan kekurangan pada matanya saja lah yang terlihat semakin menarik dengan kaca mata bertengger di atas hidungnya.
Dan, harapan saya memang menjadi kenyataan. Ketika duduk di bangku kuliah, saya seringkali tidak bisa mencatat yang dituliskan dosen hanya karena tempat duduk saya tidak terdepan. Awalnya, saya mengira memang tulisan dosen tersebut yang terlalu kecil dan kurang bagusnya pencahayaan yang membuat tulisan dosen tidak terlihat. Akan tetapi, lama kelamaan saya menyadari bahwa ada sesuatu yang salah dengan mata saya. Setelah diperiksa, benar lah bahwa mata saya min. Tidak terlalu banyak sih, tapi sudah harus memakai kaca mata kalau ingin memandang segala sesuatunya dengan lebih jelas.
Maka, sejak saat itu saya harus menggunakan kaca mata. Awalnya, kebahagiaan jelas-jelas saya rasakan. Bagaimana tidak bahagia, lha wong saya meraih apa yang selama ini saya harapkan. Saya juga bahagia karena ternyata setelah begitu lama melihat dunia yang tidak begitu jelas, kini saya bisa menyaksikan sekeliling saya yang terang benderang. Rumput di lapangan terlihat begitu hijau, padahal sebelumnya rumput itu sama sekali tidak menarik perhatian saya. Ya, awalnya saya sangat bahagia.
Tapi yang terjadi kemudian, setelah berselang cukup lama, barulah saya menyadari bahwa dengan memakai kaca mata, saya sekian persen kemerdekaan saya terenggut. Yah, setidaknya saya tidak bisa lagi menonton TV dengan tiduran. Karena jika saya melakukannya, maka mata saya akan terasa sedikit sakit. Selain itu, jika saya naik sepeda dan kebetulan hujan turun, maka saya harus siap-siap berulang kali menyeka dan membersihkan kaca mata saya agar pandangan menjadi cerah dan jelas kembali.
Apa boleh buat, sekarang tanpa kaca mata saya tidak bisa beraktifitas dengan baik. Maka, meski kebebasan sedikit terenggut, kaca mata saya ini sedikit banyak telah juga memberikan sesuatu yang dulu pernah hilang, yakni pandangan dan pemandangan yang cerah dan jelas.
Setidaknya dua keinginan saya terkabul meski kemudian agak saya sesali. Maka, saya tidak akan lagi membuat keinginan seenak hati. Takut kelak menyesal lagi.
Tags: hasrat
Ada satu bagian dari tubuh saya yang minimal tiga kali sehari harus saya perhatikan. Apabila saya melanggar hal ini maka penampilan saya akan terlihat tidak karuan. Dengan kata tidak karuan, maksud saya penampilan akan terlihat kurang begitu rapi, meski tidak bisa juga dikatakan awut-awutan. Gimana ya? Yach, intinya kalau kewajiban untuk memperhatikan bagian tubuh saya yang satu ini tidak saya jalankan maka penampilan saya yang biasanya imut dan bersih, plus rapi akan berubah menjadi sedikit kotor dan tampak kurang merawat diri.
Seperti yang tentunya sudah Anda semua duga, bagian tubuh yang satu ini adalah kumis. Apakah Anda juga memilikinya di bawah hidung Anda? Kalau Anda pria mungkin sekali Anda memilikinya. Akan tetapi, kalau Anda wanita sungguh mustahil bagian tubuh yang satu ini juga terdapat pada tubuh Anda.
Ya, kumis saya ini (plus jenggotnya) memang sekarang cukup merepotkan. Gimana nggak merepostkan kalau setidaknya setiap tiga hari saya harus merapikannya. Benar, jika satu hari saja yang terlupa untuk menjalankan kewajiban, kumis dan jenggot saya ini sudah akan terlihat lebat. Sebenarnya kalau benar-benar lebat seperti yang dimiliki oleh Pak Raden sih malah enggak apa-apa. Lha milik saya ini tidak selebat kumisnya pak Raden. Kumis saya ini hanya terlihat hitam dan terjulur pendek-pendek. Sungguh sangat mengganggu penampilan saya.
Sebenarnya saya pernah punya niat untuk membiarkan kumis dan jenggot saya ini untuk tumbuh bebas tanpa harus saya perhatikan secara reguler. Dan, pernah saya benar-benar menjalankan rencana saya ini. Tapi apa yang terjadi, meski sudah dibiarkan cukup lama, jenggot dan kumis saya tidak tumbuh seperti yang saya inginkan. Kedua bulu di wajah saya ini memang bertambah panjang. Kumis yang letaknya di bawah hidung ini bahkan kadang sampai ke bibir, saking panjangnya. Begitu pula dengan jenggot saya. Saking panjangnya, saya sempat bisa mengelus-elusnya seperti yang sering dilakukan oleh Pepi di acara empat mata.
Tapi, sayangnya hanya cukup sampai panjang saja. Titik. Kumis dan jenggot saya kalau dibiarkan hanya bertambah panjang. Keduanya tidak dengan sendirinya menjadi rapi dan enak dipandang seperti yang saya harapkan. Dan karena hanya bisa tumbuh panjang tanpa bisa menjadi rapi ini, maka dengan semakin lamanya saya biarkan keduanya, semakin awut-awutan pula penampilan saya. Maka, dengan tekad bulat sejak saat itu saya berjanji akan selalu menjaga penampilan saya dengan secara teratur memotong kumis dan jenggot saya. Hasilnya, saya harus rela menyediakan waktu untuk memandang wajah saya di cermin dan memperhatikan apakah kedua bulu di wajah saya ini sudah saatnya dipotong atau belum. Hal ini cukup mengganggu. Tapi, ya harus saya nikmati.
Padahal, ketika kecil dulu saya selalu memimpikan untuk memiliki kumis dan jenggot yang cepat tumbuh. Menurut saya waktu itu, seorang pria yang tidak memiliki kumis dan jenggot tidak akan kelihatan kelelakiannya. Sebaliknya, seorang pria yang berkumis dan berjenggot lebat adalah simbol lelaki perkasa. Kini, saat harapan saya semasa kecil terkabul, dan kumis serta jenggot saya selalu tumbuh lebih dengan cepat, kenapa saya justru merasa tidak senang ya?
Tags: Extacy
Nah, ini dia yang saya takutkan dari penyakit saya yang sudah saya ceritakan di postingan terdahulu, yakni susah tidur. Benar, kalau hanya susah tidur saja yang menimpa saya, mungkin saya tidak akan terlalu peduli dn akan menerimanya begitu saja. Karena saya juga sependapat dengan saran mas Pencari Hikmah bahwa di balik segala sesuatu pasti ada hikmahnya. Dan saya juga yakin di balik penyakit susah tidur saya itu ada hikmahnya. Benar, saya meyakini itu. Dan, kalau hingga saat ini saya bisa menerimanya dan tidak sampai pada tahap stress atas penyakit ini sebagiannya karena saya yakin akan hal itu.
Tapi, kalau sudah menyangkut efek samping dari penyakit susah tidur ini, saya sampai saat ini benar-benar belum bisa meyakini ada hikmah di baliknya. Oke lah, kalau penyakit susah tidur itu membawa hikmah. Setidaknya, saya bisa merasakan hikmah itu dalam bentuk kemampuan saya untuk bekerja hingga larut malam. Tidak seperti teman-teman saya yang kalau sudah jam sepuluh malam saja sudah sangat berat membuka mata. Lah, kalau efek samping berupa telat bangun ini, seperti dilihat dari sudut pandang manapun hanya lah kutukan. Karena kutukan, maka tentu tidak ada hikmah yang bisa kita temukan di baliknya. Apa coba manfaat telat bangun? Apakah ada? Kalau ada, silahkan memberi komen di sini.
Kalau bagi saya sendiri sih, telat bangun adalah sebuah kutukan. Kenapa demikian? Karena dengan mengidap efek samping telat bangun ini banyak hal-hal berguna yang tidak saya lakukan. Bahkan, ada hal-hal wajib yang tidak saya jalankan hanya gara-gara telat bangun. Contohnya, seperti sholat subuh. Kalau bangun saya terus-terusan kesiangan tentu kewajiban yang satu ini tidak saya laksanakan pada waktunya. Ya meskipun kemudian saya mengerjakannya dengan niat Qodho, tetap saja itu berarti saya tidak menjalankan kewajiban sebaik-baiknya. Karena, kan tidak ada aturan yang memperbolehkan untuk mengqodlo sholat kita. Apalagi kalau dilakukan secara terus-menerus.
Benar, memang ada satu aturan yang memperbolehkan kita untuk melakukan hal itu dengan alasan ketiduran. Akan tetapi ketiduran di sini mengacu pada tidur normal yang karena sesuatu alasan, pada waktu sholat tiba, orang tersebut tidak bangun dan hanya bangun mana kala waktu sholat telah lewat. Lha kalau saya, yang tidurnya kadang jam 3 atau setengah empat pagi, tidur saya tentu tidak bisa dihitung sebagai alasan yang benar dan sah untuk boleh mengqodlo sholat. Lha wong saya sadar sesadar-sadarnya kalau tidur saya jam segitu maka saya tidak akan mungkin bisa bangun saat subuh tiba kok.
Meskipun ketika beranjak tidur itu saya senantiasa menyetel alarm pukul 5, yang berarti masih di dalam waktu sholat subuh, toh tetap saja saya selalu tidak bisa benar-benar bangun pada saat alarm berbunyi. Dan saya tahu itu. Jadi, saya tetap tidak bisa menjadikan tidur saya sebagai alasan yang sah untuk tidka mengerjakan sholat subuh pada waktunya. Malah, keputusan saya untuk menyetel jam alarm pada pukul 5 itu adalah sebuah kesalahan. Lho kok? Ya, karena dengan menyetel alarm pada pukul itu berarti saya telah bangun pada saat telah masuk waktu sholat subuh. Dengan demikian, maka saya sudah wajib mengerjakan sholat. Tidak lagi berlaku alasan tidur. Tuh kan?
Lha, itu baru satu hal. Masih banyak hal lainnya yang sering kali harus saya lewatkan gara-gara telat bangun yang merupakan efek dari susah tidur. Kadang ada janji, dan karena saya telat bangun maka janji itu hanya tinggal janji yang tidak mungkin untuk ditepati. Mungkin tidak akan bermasalah kalau orang yang ada janji dengan kita itu tidak memiliki power. Lha kalau dia orang berkuasa (dalam pengertian bagaimanapun) tentu tidak menepati janji adalah sebuah kesalahan besar.
Ada lagi, sering karena susah tidur, meskipun saya bisa bangun pagi-pagi, ada efek lain yang harus saya tanggung. Ya, ngantuk dan tidak bersemangat. Jadi, sama saja kan? Penyakit susah tidur saya menyebabkan hal-hal yang tidak menyenangkan. Entah itu telat bangun, ataupun bangun tepat waktu dan beraktifitas dengan mengantuk dan tanpa semangat, keduanya sama-sama tidak menyenangkan. Fuih!
Tags: hurdles