May 26, 2008

Sakit Perut

Filed under: hurdles

Ini nih penyakit yang kalau saya amat-amati sering menimpa saya. Ya memang sih kalau dibandingkan dengan orang yang penyakitnya macam-macam dan memerlukan biaya sangat besar agar kembali sembuh ke keadaan normal, penyakit saya ini adalah penyakit kecil. Jadi, sudah selayaknya kalau saya memanjatkan syukur hanya dikasih penyakit seperti ini. Tapi, yang namanya penyakit, tetap saja kalau datang rasanya menyiksa. Dampaknya, aktifitas saya mau tidak mau harus terganggu.

Berkaitan dengan penyakit ini, salah seorang saudara saya suatu ketika kirim short message service (atau bahasa gaulnya SMS lah) pada saya. Isinya mengabarkan kalau dirinya sedang terhinggap oleh penyakit men***. Di dalam sms waktu itu dia mengatakan, “Kabarku lagi kurang baik nih, biasa penyakit nggak elite nya lagi datang. Aku sudah dua hari ini lagi men***”

Jadi oleh saudara saya ini, penyakit men*** yang dideritanya dianggap sebagai penyakit nggak elite. Saya yakin di balik sms itu, dia berpikir bahwa penyakit yang elite itu ya seperti penyakit jantung, paru-paru, gagal ginjal, stroke, dan penyakit-penyakit lain yang biasanya diderita oleh orang-orang berduit dan penyembuhannya juga memerlukan uang yang tidak sedikit.

Nah, menerima sms seperti itu, secara otomatis pikiran saya memberontak. Maka saya balas sms saudara saya itu. Intinya, saya tidak setuju dengan pandangannya. Ya, menurut saya men*** atau masuk angin, atau sakit perut, atau bahkan panu, kadas, kudis, kurap dan sebangsanya itu tidak bisa dikatakan sebagai penyakit tidak elite. Alasan saya sih sederhana, siapa saja berpeluang menderita penyakit-penyakit ini sebagaimana penyakit-penyakit seperti gagal ginjal, gagal jantung, dan kawan-kawannya yang juga berpeluang untuk diderita oleh siapapun tidak hanya oleh mereka yang berduit. Buktinya, tetangga saya pernah ada yang meninggal karena sakit paru-paru lebih tepatnya asma. Padahal tetangga saya itu bukan orang kaya. Dia bahkan sangat memenuhi syarat untuk disebut miskin dan karenanya berhak mendapat BLT. Dan memang pada tahap pembagian pertama, dia mendapat bagian BLT.

Selain itu, penyakit-penyakit yang oleh saudara saya itu sebut sebagai penyakit gak elite itu juga terbukti pernah menjadi penyebab kematian seseorang. Memang sih, belum pernah ada laporan dari media massa bahwa seseorang meninggal dunia lantaran penyakit panu. Tapi, tentunya sudah banyak dong laporan surat kabar yang memberitakan kematian seseorang karena masuk angin, atau men****, atau sakit perut. Nah, kalau demikian, berati benar penyakit-penyakit ini tidak boleh dianggap nggak elite. Yach, intinya penyakit-penyakit itu tetap harus dimasukkan ke dalam kategori elite.

Masalahnya kemudian penyakit seperti apa yang layak dimasukkan ke dalam kategori tak elite? kira-kira demikian balasan sms saudara saya itu kemudian. Menjawab smsnya, dalam sms saya selanjutnya yang saya masukkan ke dalam kategori penyakit nggak elite adalah penyakit-penyakit macam iri hati, dengki, sombong, lupa diri, wa ala aalihi wa ashabihi ajama’in. Alasan saya memasukkan penyakit-penyakit ini ke dalam kategori penyakit nggak elite adalah bahwa tak peduli betapa kayanya seseorang, kalau dia mengidap salah satu penyakit tersebut, sikapnya akan terlihat layaknya orang-orang tak berbudaya. Bayangkan saja seorang bos yang sombong. Pasti dia akan bersikap merendahkan para bawahannya. Nah, dalam budaya komunal dan kemasyarakatan di mana sikap saling menghargai adalah sebuah keharusan, sikap suka merendahkan orang lain yang ditunjukkan oleh si bos ini tentu tidak bisa diterima. Nah, kalau sikap seseorang tidak diterima oleh masyarakat, berarti sikap itu termasuk sikap tak berbudaya. Maka, orangnya pun juga bisa dimasukkan sebagai orang yang tak berbudaya. Orang tak berbudaya bisa disamakan dengan orang tak elit lah.

Jadi, kawan-kawan sekalian, tidak usah merasa malu kalau Anda langganan menderita sakit perut, masuk angin, atau mencret seperti yang saya alami. Karena penyakit ini termasuk penyakit elit, yang sama berbahayanya dengan penyakit lain seperti gagal jantung dkk. Sebaliknya, Anda boleh merasa malu kalau kawan-kawan masih sering suka iri hati, dengki, dan teman-temannya. Karena penyakit ini sama sekali elite. Karena semua penyakit ini hanya menunjukkan bahwa jiwa kawan-kawab tidak elite sama sekali.

Tags:

May 24, 2008

Sandal

Filed under: hurdles

Pernah punya sandal yang Anda sayangi dan tiba-tiba hilang entah ke mana? Pernah? Seperti semua orang pernah mengalami hal yang satu ini. Meski dalam tingkatan rasa sayang yang berbeda-beda, sepertinya semua orang pernah menyayangi sesuatu yang menjadi miliknya. Dan menurut saya sandal adalah barang yang tampaknya paling mungkin untuk disayangi oleh semua orang. Lebih dari itu, barang yang satu ini juga paling rawan hilang. Kenapa? Ya jelas lah, masak ya Jelas dong! Ya jelas karena tidak seperti barang lainnya yang bisa selalu kita kenakan atau kita bawa atau juga kita simpan, di beberapa tempat barang yang bernama sandal ini harus kita lepaskan dari kaki kita tak peduli betapa sayangnya kita padanya. Misalnya saja saat Anda harus ke masjid, mau tidak mau tentu sandal tidak bisa Anda pakai. Ia harus rela kita tinggal di depan masjid. Dan, karena memang di sinilah sandal harus di lepas, maka otomatis salah satu tempat di mana sandal sering hilang adalah di masjid.

Adapun saya, saya pernah beberapa kali kehilangan sandal kesayangan. Kadang sandal yang saya sayangi itu harganya mahal. Kadang juga si sandal tidak terlalu mahal tapi bentuk dan enak di pakai di kaki. Entah itu mahal maupun hanya karena pas di kaki, yang namanya sandal kesayangan jika hilang maka kita akan merasa kehilangan. Begitu pula dengan saya, meski saya sadar sesadar-sadarnya bahwa sandal hilang adalah hal biasa, dan bahwa harga sandal tidak terlalu mahal sehingga kita bisa dengan mudah mencari pengganti, saat sandal kesayangan saya hilang saya betul-betul merasakan kepahitan. Ada rasa sesak di dada.

Well, di antara momen-momen hilangnya sandal saya itu, saya masih ingat dua kejadian di antaranya. Yang pertama terjadi di Yogyakarta. Sedangkan yang kedua terjadi di Cirebon. Meski tempat terjadinya kedua kehilangan saya itu sangat jauh terpisah jarak, dan beda provinsi, namun ada kesamaan yang melatarbelakangi kepergian saya ke kedua tempat itu. Yakni, acara keagamaan.

Kejadian pertama yang di Yogyakarta terjadi saat saya masih berusia remaja. Kalau tidak salah saat itu berusia sekitar 12 atau 14 tahun. Saya pergi ke Yogya bersama keluarga saya untuk Piknik. Hampir semua tempat pariwisata di Yogya dan sekitarnya waktu itu kami kunjungi dengan penuh suka cita. Maklum, masih kecil dan pergi jauh ke luar kota bukan sesuatu yang bisa saya lakukan di hari-hari biasa. Hanya pada saat-saat istimewa saja yang bisa pergi keluar kota dan bersama keluarga lagi.

Nah, pada saat tiba gilirannya piknik di Kebun Binatang Gembiro Loka, kebetulan waktunya pas siang hari dan waktu sholat dzuhur pun tiba. Entah apa yang mendorong hati saya waktu itu, panggilan sholat di sebuah  musholla benar-benar telah menarik keinginan saya untuk sholat. Saya bahkan tidak mengajak satu orang kerabatpun untuk ikut sholat bersama saya. Maka, setelah wudlu saya langsung masuk ke musholla dengan tanpa ada pikiran apapun. Dan saat saya telah selesai sholat dan hendak berkumpul lagi bersama kerabat, oh no! sandal saya yang tadi saya tinggalkan dengan pedenya tidak ada lagi di tempat semula.

Saya yakin seyakin-yakinnya sandal saya bukan sandal ajaib. Karena itu tidak mungkin dia jalan-jalan sendiri saat saya sedang sholat. Saya juga yakin bahwa tadi tidak ada satu orang kerabat pun yang bersama saya ke musholla itu. Jadi, tidak mungkin si sandal di sembunyikan untuk menggoda. Maka, dengan hati agak kecewa (ya gimana nggak kecewa wong kehilangan kok) saya berusaha mencari-cari si sandal di semua sudut musholla. Setelah semua sudut saya telusuri dan si dandal tidak juga kelihatan batang hitungnya, maka saya ambil kesimpulan bahwa si sandal sudah diambil orang. Dengan dipaksa-paksakan, saya harus mengingat ajaran guru ngaji dulu bahwa sesuatu yang lepas dari kita tidak lah benar-benar hilang, hanya sedang dipelukan orang. Dalil inilah yang saya pakai saat kerabat-kerabat saya menanyakan ha ihwal sandal saya. Saat mereka bertanya “Sandalmu Ilang yo?” Dengan lantang saya menjawab “Tidak hilang, cuma sedang dipinjam. Pasti akan diganti.”

Yang kedua terjadi beberapa waktu lalu di Cirebon saat saya ikut ziarah wali songo. Saat hendak ke makam sunan gunung jadi, saya (sebetulnya bukan hanya saya saja, akan tetapi semua peziarah) harus melepaskan alas kaki. Kali ini dengan sangat pede saya juga meninggalkan sandal kesayangan tanpa ada rasa curiga atau firasat akan terjadinya kehilangan. Dengan khusyuknya saya bisa mengikuti ziarah di tempat itu. Dan saat hendak kembali ke bis, lagi-lagi si sandal telah tidak tampak batang hidungnya. Saya cari ke sana kemari, siapa tahu hanya posisinya yang berubah, tapi tak juga saya temukan. Maka, saya simpulkan sandal saya yang satu inipun telah tidak menjadi milik saya lagi. Dengan perasaan masgul yang ditahan-tahan saya kembali ke bis. Saat berjalan ke bis itulah tercetus satu pikiran di benak saya: pasti kejadian ini mengandung pesan khusus untuk saya, buktinya sebegitu banyak orang, dan dengan sandal yang lebih bagus dari milik saya, hanya saya seorang yang kehilangan sandal. Entah apa pesan dari kehilangan saya ini. Tapi saya yakin pasti ada.

Begitulah, sandal saya kini telah berubah. Sekembali dari ziarah, saya memutuskan untuk membeli sandal yang lebih bagus dan harganya jauh lebih mahal. Ya, setidaknya agar saya tidak lagi menyesali kehilangan itu. Dengan sandal yang lebih bagus saya berharap justru bisa mensyukuri hilangnya si sandal.

Tags: